DEMOKRASI INDONESIA Awalnya Dari MINAHASA

DEMOKRASI INDONESIA Awalnya Dari MINAHASA

Resmikan Rumah Pintar Pemilu KPU Minahasa Kenang  Ungkapan Alm. Husni Kamil Manik

Tondano -  Rumah Pintar Pemilu (RPP) Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Minahasa diresmikan penggunaannya, Jumat  (24/02). RPP yang diberi nama bermuatan bahasa lokal Toulour-Tondano dengan nama lokal “Wale Pawowasan Pemilu”  yang berarti rumah pembelajaran pemilu tersebut diresmikan penggunaannya oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa,  Jefry Korengkeng, SH, MSi mewakili Bupati Minahasa.

“Pemkab Minahasa menyambut positif RPP Wale Pawowasan ini, semoga dapat menjadi pusat pembelajaran demokrasi dan pemilu terutama menyambut tahapan Pilkada Minahasa 2018,” ungkap Korengkeng.

 Yang menarik, Ketua KPU Kabupaten Minahasa, Meidy Yafeth Tinangon dalam sambutannya menyebut bahwa muatan display dalam RPP KPU Minahasa tersebut terinspirasi ungkapan mantan Ketua KPU RI, Alm. Husni Kamil Manik yang dalam suatu kesempatan kunjungan ke Sulawesi Utara dan membawakan kuliah umum di Universitas Sam Ratulangi Manado, 27 Mei tahun 2016 yang lalu,  pernah mengungkapkan bahwa demokrasi di Indonesia berawal dari Minahasa.

 “Almarhum Husni Kamil Manik, pernah menegaskan bahwa  demokrasi Indonesia awalnya dari Minahasa. Hal ini sangat beralasan karena sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, jauh sebelumnya kultur, struktur dan praktek demokrasi telah ada di tanah Minahasa,” ungkap Tinangon.

 “Di tingkat desa kita telah lama mengenal pemilihan ukung tu’a  atau hukum tua atau kepala desa. Juga struktur lembaga pemusyawaratan tempo dulu di Minahasa telah ada dengan sebutan Dewan Wali Pakasaan yang merupakan forum tertinggi dalam struktur masyarakat Minahasa tempo dulu. Kemudian di masa Belanda dirombak dan diganti dengan lembaga perwakilan lainnya dengan nama Dewan Minahasa atau Minahasa Raad yang eksis sampai setelah Indonesia merdeka, dimana anggota-anggotanya dipilih dalam sebuah  Pemilu. Pemilu di Minahasa pernah juga dilaksanakan di masa  RIS dikala Minahasa masuk dalam Negara Indonesia Timur. Setelah itu kita memasuki masa demokrasi dan Pemilu orde baru hingga kini Pemilu di orde reformasi,” jelas Tinangon.

Tinangon menyebut bahwa atas dasar itulah maka  RPP KPU Minahasa berusaha memberikan muatan pembelajaran sejarah demokrasi di Minahasa. Sehingga ditampilkan juga muatan-muatan lokal sejarah demokrasi Minahasa di ruang display,” jelas Tinangon.

Kegiatan persemian diawali dengan sambutan selamat dating oleh komisioner KPU Minahasa, Dra. Wiesje Wilar dan laporan Ketua Pusat Pendidikan Pemilih (Pusdiklih) Kristoforus Ngantung, SFils.

Dalam laporannya Ngantung menyampaikan terimakasih kepada KPU RI yang telah memberi kepercayaan kepada KPU Minahasa sebagai salah satu pilot project RPP dari sekian banyak Kabupaten / Kota di Indonesia.

“Kepercayaan tersebut dengan segala daya upaya berusaha kami jawab seoptimal mungkin dengan merealisasikan RPP Wale Pawowasan Pemilu, yang diharapkan akan menjadi salah satu kekuatan dalam pendidikan pemilih guna meningkatkan partisipasi pemilih,” ungkap Ngantung.

RPP Wale Pawowasan  sendiri dirancang menyesuaikan dengan ketersediaan ruangan dengan memberi nama masing-masing ruangan dengan Bahasa lokal. Bagian-bagian ruang an tersebut meliputi: ruang tunggu  diberi nama ruang sumaba-sabar, ruang display dengan nama ruang sumekolah,  ruang simulasi diberi nama ruang papendangan- tou ngaasan dan ruang audio video yang digabung dengan ruang diskusi serta perpustakaan mini dengan nama ruang baku beking pande.

Berita lainnya

Komentar

Close
Close